Menanti Ke hadiran Cleo
Siang itu panas
sekali. Sambil berjalan menuju stasiun yang berada diatas, beberapa kali
aku mengelap wajahku yang penuh keringat. Siang ini tidak seramai hari
biasanya. Petugas stasiun juga terlihat santai.
Muncul KRL melintas di depanku, tapi aku masih ingin bersantai karena kerjaanku hari ini sudah selesai. Dari KRL yang kini sedang berhenti, kenapa banyak orang berpasangan. Risih? Tentu tidak.
Buat apa kita iri
melihat orang yang berpasangan atau berpacaran. Jatuh cinta itu ketika
siap, bukan karena kamu kesepian. Kereta yang kutunggu masih belum
datang juga. Kini stasiun mulai sepi. Aku melirik ke sekitar ku.
Ah, apa itu, bening sekali. Indah. Seorang gadis berwajah agak lonjong, putih, manis, berambut panjang lurus, ia jalan kearahku. Ah, semoga ia duduk disebelahku.
Yak, wanita itu duduk di sebelahku. Dia cantik sekali. Entah lebay atau tidak, bagiku kecantikan dia seperti seorang Ratu.
Aku melirik ke arah
jam tanganku, disaat bersaaman ia melihat jam tangannya juga. Aku
menengok ke sebelah kanan menanti kereta yang kunanti. Tiba – tiba
wanita itu juga menengok ke arahku.
Mataku terbelalak ketika melihat ia menoleh ke arahku. Ia sempat tersenyum sedikit kepadaku.
Ah, datang juga
KRL itu. Aku dan wanita itu berdiri dan menuju pintu KRL. Karena isi KRL
sudah dipenuhi penumpang, aku dahulukan si wanita cantik itu.
Kini ia tersnyum
lebar kepadaku. Pintu kereta tertutup. Aku hanya bisa memandangi wajah
wanita itu dari depan pintu yang dilapisi kaca. Kereta itu pergi, begitu
juga dengan si wanita cantik itu. Akupun masih menunggu kereta
selanjutnya.
*
Hari telah
berganti, tapi suasana panas kota ini masih tidak berganti, selalu
panas. Hari ini bisa pulang cepat lagi karena kerjaanku tidak banyak
dikantor, siapa tahu saja bisa bertemu wanita yang kemarin.
Kalau bertemu lagi siapa tahu jodoh. Kedua kali itu bukan kemungkinan, tapi takdir yang pertemukan.
Hampir setengah jam
aku menanti kereta. Dan menanti gadis yang kemarin juga tentunya. Tidak
lama, ada seseorang yang duduk disampingku. Aku mencoba melihat
wajahnya, tapi sulit karena rambutnya yang panjang.
Aku terus mencoba
mencuri pandang dari tempatku duduk. Eh, tiba – tiba ia menoleh. Yak!
Itu adalah gadis yang kemarin. Ia tersenyum padaku. Ia segera melepas
headset yang ia pakai dikupingnya. Karena rambutnya yang panjang aku
tidak melihat dia memakai headset.
“Eh, kamu lagi.” Ucap wanita itu padaku.
“Eh, kamu juga lagi” balasku sambil nyengir.
“Udah dua kali ya kita ketemu barengan gini, padahal kan tujuan kita gak sama ya?” tanya gadis itu.
“Hemm.. kalo dua kali sih biasanya bukan kebetulan loh.” Balasku.
“Jodoh maksudmu?”
“Tergantung nasib. Hehe.” Balasku sambil tertawa kecil.
Gadis itu memperhatikan jam tangannya. Mulutku tak tahan ingin menanyakan siapa namanya.
“Boleh tau nama kamu?” tanyaku ke wanita itu.
“Hemm, buat apa?”
“Buat nyapa kamu, kalo besok – besok ketemu lagi disini.”
Gadis itu diam, berpikir. “Gini aja, kalo besok kita ketemu lagi disini, baru aku kasih tau namaku.”
“kok gitu?" gumamku. "Kalo besok kita ketemu lagi, bukan kebetulan namanya." ucap gadis itu. Ia langsung berdiri dan pergi berjalan kearah tangga stasiun.
Aku hanya memberi senyum saat dia pergi melangkah turun ke bawah stasiun. Ah, semoga saja besok bisa bertemu dia, lagi.
*
Ah, tumben sekali
hujan turun dikota yang biasanya panas dan banyak polusi ini. Hari ini
aku tidak boleh terlambat ke stasiun. Bukan untuk naik kereta, tapi
bertemu gadis kemarin. Gara – gara hujan hari ini aku harus berteduh
sebentar dan sepertinya terlambat bertemu dengan gadis itu.
Ah, benar ternyata
aku terlambat. Aku datang lebih telat dari hari kemarin. Kucari dia di
seluruh stasiun belum kelihatan. Kemana dia, gadis berambut panjang itu.
Masa iya aku bertanya kepada orang – orang di stasiun?
Mulai habis asaku.
Aku bingung, perasaan apa ini? Kenapa tak bisa kujelaskan, kenapa aku
masih rela menanti dan mencari gadis itu. Aku berjalan pelan menuju
tangga yang menuju bawah stasiun. Aku mulai menuruni 2 anak tangga, dari
belakang ada yang menepuk pundakku.
“Cleopatra.”
Aku heran. Ternyata itu gadis yang kunanti. Ia tersenyum padaku.
"Tergantung nasib?" lanjut Cleopatra kepadaku.
Ah, gadis cantik
itu punya nama secantik dirinya. Cleopatra. Setelah berkenalan, aku dan
Cleopatra duduk bersama sambil bercerita.
Hari – hari selanjutnya pun kulalui menunggu kereta datang, sambil menanti Cleopatra menemaniku.
Oh iya, aku tahu
ini perasaan apa. Ini bukan perasaan cinta. Tapi ini perasaan, yang tak
ingin kehilangan dan ingin memiliki dia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar